Membangun Bangsa dengan Tekno-Sains-Ekonomi

PENGANTAR Tahun 2017 tinggal menunggu hari. Selama 2016 tentu banyak dinamika yang menghiasi bangsa ini dalam berbagai sektor kehidupan. Untuk mengulasnya, mulai Selasa (13/12/2016) hingga Sabtu (24/12/2016), kami akan menampilkan pandangan dan pemikiran sejumlah pakar di berbagai bidang. Selamat menyimak. Redaksi TIGA bencana alam nasional yang berdampak besar pada kehidupan alam seantero bumi ialah, pertama, letusan Gunung Tambora (1815), Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, yang mengeluarkan 1,7 juta ton abu dan material vulkanis ke udara sehingga bumi tidak menerima cukup sinar panas yang menghasilkan gelombang hawa dingin dan menjadikan 1816 tahun tanpa musim panas dengan dampak gagal panen dan kelaparan meluas di banyak negara. Kedua, erupsi Gunung Krakatau (1883), Selat Sunda, Banten, Jawa Barat, berkekuatan setara dengan 13 ribu kali ledakan bom atom yang menghancurkan Hiroshima pada 1945. Ketiga, gempa bumi dasar laut dekat Pulau Simeuleu, Aceh, Sumatera (2004), yang memicu gelombang tsunami dan memakan korban 225 ribu jiwa di 11 negara kawasan lautan Hindia. Di samping bencana alam berdampak global itu, masih banyak bencana alam skala daerah seperti dampak letusan Gunung Merapi dengan banjir lava besar ke bagian besar Daerah Istimewa Yogyakarta dan menelan korban jiwa dan harta besar. Bencana alam itu akan berlanjut karena Indonesia terletak dalam rangkaian pulau cincin api, the ring of fire, yang berpotensi bencana alam di sekeliling Samudra Pasifik. Bencana alam merupakan bagian dari dinamika perkembangan alam planet bumi yang tak bisa kita cegah. Namun, itu bisa dipahami dengan ilmu teknologi, sains, dan sosial-ekonomi dengan sikap dan orientasi pembangunan digeser dari menundukkan dan mengeksploitasi alam menjadi memperkaya alam (enrich) dalam memanfaatkan alam. Indonesia ialah negara kepulauan terbesar di khatulistiwa diapit dua samudera, Pasisik dan Hindia, serta dua benua, Asia dan Australia. Indonesia ditopang lempeng tektonis Eurasia di kerak bumi yang bergerak dan berbenturan dengan lempeng tektonis Indo- Australia dari arah selatan dan lempeng tektonis Pasifik dari arah timur. Struktur bumi terdiri dari kerak terluar bumi terbagi atas lempeng tektonis yang mengapung pada bebatuan merah membara yang bergerak mengelilingi permukaan bumi. Bila struktur benua di peta bumi diteliti, bisa disimpulkan bahwa Benua Amerika Selatan pernah menyatu dengan Benua Afrika. Kepulauan Sumatera-Jawa-Kalimantan pernah menyatu dengan Benua Asia, Sulawesi dengan kepulauan Filipina, dan Papua dengan Benua Australia. Namun, gerak benua yang ditopang lempeng tektonis menghasilkan peta bumi sekarang. Dalam ilmu ekologi ada garis Wallace sepanjang Selat Makassar dan Selat Lombok memisahkan ekosistem Indonesia Timur dengan Barat. Fauna dan flora Indonesia bagian Barat (Jawa, Sumatera, Kalimantan) mengikuti ekosistem Asia, sedangkan fauna-flora kawasan Sulawesi-Maluku-Papua mengikuti ekosistem Australia. Pergerakan ketiga lempeng tektonis Indo-Australia berkonvergensi saling mendekat dan berbenturan dengan lempeng tektonis Eurasia dan lempeng tektonis Pasifik. Perbenturan di antara ketiga lempeng itulah yang menjadikan Indonesia kawasan rawan gempa. Ancaman Perubahan Iklim Dalam kondisi normal, angin meniup sepanjang pantai barat Amerika Selatan mendekati khatulistiwa melingkar ke barat menuju Asia. Permukaan air lautan Pasifik Barat menaik di atas rata-rata, sedangkan air lautan Pasifik Timur di bawah rata-rata. Keadaan itu mendorong air dingin dari samudera sepanjang pantai Peru naik ke atas mengisi permukaan laut di bawah rata-rata sekaligus membawa nutrisi makanan bagi ikan. Proses gerak angin kebalikannya juga terjadi dan air permukaan laut Pasifik Barat mengalir ke arah Pasifik Timur sehingga permukaan laut di Pasifik Barat turun dan di timur naik. Perubahan gerak arus angin yang memengaruhi perubahan suhu permukaan laut di kawasan tropis lautan Pasifik disebut El Nino Southern Oscillation (ENSO). Di samping perubahan musim yang sudah dikenal, ENSO ialah fenomena iklim yang paling besar pengaruhnya pada kehidupan manusia. Itu bisa membawa kelimpahan ikan, tetapi bisa juga membawa kekeringan dan kehangatan yang rawan kebakaran hutan. Untuk Indonesia, El Nino lebih banyak mengakibatkan kekeringan yang merugikan penduduk. Pengalaman tentang El Nino memberi kita pelajaran tentang pentingnya peranan iklim bagi kehidupan manusia, terutama bagi Indonesia dengan makanan pokok beras sehingga sangat bergantung pada musim hujan yang teratur bagi pola pertanian beririgasi. Di forum internasional, para pemimpin dunia sudah mencapai kesepakatan di Paris, Desember 2015, untuk mengendalikan emisi gas-rumah kaca dalam usaha bersama mencegah perubahan iklim global. Pandangan pola pembangunan berkelanjutan bertolak dari paradigma bahwa pembangunan berlangsung dalam jejaring (network) keterkaitan pelaku ekonomi, pelaku sosial, dan pelaku lingkungan. Interaksi dan interkoneksi di antara ketiga pelaku dalam saling keterkaitan antarjejaring ekonomi-sosial-lingkungan. Ciri menonjol masa abad ke-21 ialah perubahan yang multijurus dan kompleks-dinamis. Kerangka pola pembangunan masyarakat yang berubah dinamis ini perlu ditanggapi dengan ilmu tekno-sains-ekonomi. Revolusi teknologi dipicu perkembangan sains yang melahirkan teori-teori ilmu pengetahuan baru, seperti ilmu pengembangan stem-cell, nano-science, genetika, artificial intelligence, dan design thinking, membuka wawasan ilmu baru. Yang menarik, semakin banyak perhatian ilmuwan ditujukan pada usaha memahami lingkungan alam sehingga tumbuh bio-science yang bergerak meniru alam mengembangkan pola bio-mimicry. Ilmuwan bangunan arsitektur apartemen mulai berpaling belajar dari sifat pengembangan sarang lebah. Ilmuwan sosiologi mulai tertarik pada pola kerja komunitas semut. Ilmuwan gempa tertarik pada perilaku hewan merasakan secara naluriah ancaman bencana. Begitulah seterusnya. Ada cross fertilization, fertilitas silang saling hidup-menghidupi, sokong-menyokong antara ilmu teknologi, sains, dan sosial ekonomi. Dengan begitu, berkembanglah sekarang ini konvergensi ilmu teknologi, sains, dan sosial ekonomi menuju titik pertemuan yang bermuara pada konsep-konsep pengembangan pembangunan berkelanjutan. Berdimensi ekonomi-sosial lingkungan dalam tatanan kehidupan yang kait-mengkait. Kita perlu gabungkan pendekatan cendekiawan teknologi, sains, dan sosial-ekonomi untuk bahu-membahu menanggapi berbagai ancaman bencana alam, konflik sosial, dan keguncangan ekonomi secara bersama dengan menyusun peta jalan (road-map) integrasi pola pikir ilmu teknologi-sains dan sosial-ekonomi untuk menanggapi tantangan masa depan. n Tweet Penulis : Emil Salim, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, merangkap anggota Bidang Ekonomi dan Lingkungan Hidup (2010—2014) Editor : Isnovan Djamaludin dibaca : 71640 Kali

Sumber: Lampost.co