Jangan Ada Dusta di Antara Kita, Ini 7 Dusta SBY

Oleh: Subandi Seorang Presiden dan isterinya harus siap menjadi sorotan publik dalam segala keseharian dan masa lalunya. Tidak terkecuali untuk Presiden SBY dan Isterinya keduanya: Kristiani (Ani Yudhoyono). Segala konsekuensi menjadi pemimpin Negara harus dapat dipahami sebagai berkah (menjadi bukan berkah saat si pemimpin tidak amanah). Berkah bagi SBY, saat beberapa tahun lalu aibnya soal isteri pertamanya dan puterinya (bukan dari Ani Yudhoyono) dibuka oleh Zainal Maarif (politisi Demokrat saat ini)- publik pun sempat meyorotinya, meskipun akhirnya publik pun dapat mengerti. Baca Juga Hanya SBY Lolos dari Kisah Sedih Presiden RI SBY Tebar Pesona Agus, Siapa Kepincut? Agus Kaget SBY Muncul di Tengah Kampanye Aktivis George Aditjondro Meninggal di Palu Fahri Hamzah: Presiden Butuh Orang yang Bisa Beri Informasi Akurat SBY saat itu, tahun 70an awal, adalah mahasiswa fakultas Kedokteran UNAIR yang cerdas, yang karena cerdasnya juga, ia melihat situasi kemudian meninggalkan dunia kampus kemudian masuk ke militer. Di akademi militer pemuda Pacitan ini kemudian berjumpa Kristiani, yang tak lain merupakan puteri dari Jenderal Sarwo Edhie WIbowo, Gubernur Akademi Militer Magelang. Cinta bersemi dan dibumbui nafsu kekuasaan (modus mengawini puteri dari pemilik pesantren merupakan trend yang biasa di kalangan santri muda yang ingin menjadi pemilik pesantren), SBY yang sudah beristeri dan beranak tanpa terbuka pada calon mertua barunya, Sarwo Edhie Wibowo, kemudian menikahi puteri satunya-satunya sang jenderal: Kristiani Herawati. Perlu digarisbawahi, di sini lah dusta pertama dari SBY. Ia tidak pernah mengakui bahwa ia sudah pernah beristeri kepada Kristiani dan Keluarga Besar Sarwo Edhie. Walaupun sebuah dusta yang membawa nikmat, karena kemudian mengantarkannya ke pusat-pusat kekuasaan. Sarwo Edhie Wibowo adalah petinggi militer yang kharismatik, saat itu diramal sebagai calon pengganti Suharto di masa depan, menjadi menantunya adalah berkah bagi perwira muda manapun yang ingin menjadi jenderal. Namun sayang, ambisi sang mertua dihalang-halangi penguasa Orde Baru, sampai meninggalnya ia tak pernah mendapat posisi strategis di kekuasaan. Besar kemungkinan dendam ini pula yang kemudian menjadikan sang menantu, SBY, menjadi semakin membara hasratnya menjadi penguasa. Berbeda nasib dari mertuanya, karir SBY moncer. Ia kemudian menjadi petinggi militer di beberapa wilayah. Salah satunya adalah Palembang, di mana ia berkenalan dan membina jaringan dengan jaringan mafia judi Palembang. Sengman Tjahya, yang ramai diberitakan belakangan saat kasus suap impor sapi PKS mencuat tahun 2012, menjadi salah satunya yang kelak menjadi donor dana aktivitas politik SBY hingga Pemilu dan Pilpres 2004. Di sini SBY melakukan dusta kedua jika tidak mengakuinya: dibiayai mafia judi dalam aktivitas politiknya. Mungkin karena berhubungan dengan judi inilah pula yang menyebabkan SBY menjadi sedemikian hoky dalam setiap karir politik menuju kekuasaannya kelak. Saat Suharto, musuh politik Sarwo Edhie, sudah bertanda-tanda akan lengser, SBY (yang saat itu merupakan Kepala Staf Teritorial/Kaster ABRI) berjudi dengan menggalang kekuatan dengan kalangan oposisi Orde Baru. Salah satunya adalah ekonom dan aktivis: Rizal Ramli, aktivis yang pernah dipenjarakan oleh Suharto pada 1978. Maret 1998, SBY menerima RR di sebuah apartemen di Jakarta, merumuskan cara untuk menjatuhkan Suharto atau memaksanya mundur. Dan benar, karena didorong oleh berbagai faktor terutama gerakan mahasiswa dan rakyat pada Mei 1998, Suharto pun mundur setelah 32 tahun berkuasa. Maka kemudian wajarlah jika SBY dikenal citranya juga sebagai jenderal yang paling reformis saat itu. Kemudian, setelah era baru Reformasi telah bergulir, baik SBY maupun Rizal Ramli diangkat menjadi menteri oleh Presiden Gus Dur. SBY, yang saat itu merupakan menteri pertambangan, memiliki catatan sejarah pernah mencoba meloloskan UU Neoliberal awal-awal Reformasi, yaitu UU Migas No. 22 tahun 2001 yang draft-nya dibuat oleh USAID, namun tentu saja langsung digagalkan oleh menteri Rizal Ramli. Saat itu sebenarnya sudah dapat dideteksi jenis kelamin ideologi ekonomi sang jenderal SBY ini: neoliberal. Pasti SBY sangat gondok mendapati bahwa UU titipan asing ini tidak dapat gol. Apalagi saat mengetahui menteri kesayangan Gus Dur, Rizal Ramli, hendak melakukan renegosiasi kontrak dengan Freeport (perusahaan tambang AS yang lahirnya disponsori Orde Baru), SBY semakin kebakaran jenggot dan kemudian ikut dalam barisan para pengguling Gus Dur. Di sini menunjukkan bahwa SBY meninggalkan pemerintahan reformis (menghancurkan citranya dahulu) dan bergabung dengan sisa-sisa kekuatan Orde Baru dan neoliberal yang menunggangi Megawati Sukarnoputeri. Merupakan dusta ketiga SBY jika ia tidak mengakui pemikiran ekonominya berhaluan neoliberal. Karena keahlian dan jasanya dalam merekayasa politik inilah (penggulingan Gus Dur) SBY kemudian diangkat menjadi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan pada era Presiden Megawati Sukarnoputeri. Pada masa ini, akhirnya SBY dapat “memastikan” semua UU Neoliberal (termasuk UU Migas) lolos menjadi kebijakan nasional- menuntaskan hasrat ideologisnya dan dukungannya untuk berkuasa dari asing. Dan karena kepemilikan wewenang dalam dunia intelejen inilah (Wiranto pernah mengaku merasa dimata-matai oleh intel SBY), SBY memberanikan diri untuk mendirikan partai politik untuk bertarung pada Pemilu 2004 (mendapat 7% suara sehingga berhak mencalonkan diri menjadi Presiden) dan dirinya sendiri untuk maju dalam Pilpres 2004. Merupakan dusta keempat SBY jika ia tidak mengakui mengamankan berbagai penerapan kebijakan neoliberal semasa pemerintahan Megawati. Saat sukses maju dalam Pilpres putaran kedua melawan Megawati, SBY ingin melibatkan Rizal Ramli sebagai tim suksesnya. Untuk itu ia harus sowan kepada Gus Dur dan Wiranto, karena sebelumnya ekonom senior tersebut merupakan tim dari kedua tokoh ini. SBY pun berjanji akan menerapkan nasihat-nasihat ekonomi konstitusi dari Rizal Ramli dan menjadikannya menteri koordinator perekonomian jika kelak terpilih. Namun, apa lacur, SBY malah ditawarkan menteri perindustrian, yang langsung ditolak RR karena tidak berguna- karena kendali ekonomi berada pada menteri koordinator perekonomian. Di sinilah SBY melakukan dusta kelima , menjanjikan posisi tertentu, namun malah memberikan posisi lainnya. Dan akhirnya SBY malah memasukkan ekonom-ekonom beraliran neoliberal dalam kabinetnya, yang tentu berseberangan aliran ekonomi konstitusi dengan Rizal Ramli, seperti: Boediono, Sri Mulyani, dan Marie Elka Pangestu. Namun demi menjaga hubungan, akhirnya SBY kembali meminta bantuan Rizal Ramli untuk membenahi BUMN Semen Gresik sebagai Presiden Komisaris-nya pada 2006. Namun aneh, saat Rizal Ramli menolak kebijakan pencabutan subsidi BBM pada 2008, kembali berseberangan dalam pandangan ekonomi, SBY malah mencopot Rizal Ramli dari posisinya- dan bahkan berusaha mengkriminilisasi ekonom penasehat PBB ini dengan pasal karet peninggalan Kolonial Belanda. Adalah dusta keenam SBY jika dalam bukunya yang baru terbit beberapa hari lalu, Selalu Ada Pilihan , ia malah mengatakan yang sebaliknya (di halaman 147) bahwa Rizal Ramli lah yang ingin keluar. SBY masih tetap neoliberal sampai saat-saat terakhirnya, dan RR dicopotnya pada tahun 2008 karena memperjuangkan perekonomian konstitusi dengan menolakan kenaikan harga BBM. Dan dusta ketujuh SBY adalah dustanya kepada Agama Islam. Dengan menjadi pemberitaan di media asing (Washington Post, 21 Januari 2014), bahwa dikatakan bahwa “Presiden Indonesia percaya kepada santet ”, maka SBY terbukti telah mendustai agamanya. Dengan mencoba menyekutukan Allah-nya dengan benda-benda mistik, maka ia pasti bukanlah muslim yang baik. Namun tentu yang terakhir ini perlu pendiskusian spiritualistas yang lebih dalam lagi. Akhirnya, dengan sekian banyak (7 dusta) dusta yang disampaikan di atas, tentu menjadi aneh jika SBY selalu mengatakan berprinsip “jangan ada dusta”. Jika tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang “sakit”, tentu SBY jelas adalah pemimpin yang memiliki sifat dasar munafik- karena selalu bertindak yang bertentangan dengan perkataannya. Namun tentu itu semua kembali kepada penilaian kita semua. Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Fokus Isu , SBY , Presiden , Dusta , Subandi , Fokus Isu , SBY , Presiden , Dusta , Subandi , Fokus Isu , SBY , Presiden , Dusta , Subandi

Sumber: RimaNews