Jokowi dan Bubur Panas yang Kian Panas Menggerus Elektabilitas

RIMANEWS Jokowi terus merosot, tidak elektabel. Artinya, dikhawatirkan elektabilitas Jokowi berganti ereksibilitasnya sendiri. Internal PDI Perjungan sudah mengakui elektabilitas Joko Widodo yang turun dan menurun. Ini dapat dimaklumi disebabkan kantong-kantong suara belum tergarap dengan maksimal. Kini mereka terapkan politik bubur ayam, menggarap dari pinggiran. Hampir dua pekan pelaksanaan kampanye pemilu presiden, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tak kunjung turun mengkampanyekan Joko Widodo. Kondisi ini sempat memunculkan spekulasi tidak sedap. Seperti soal Megawati yang dianggap tidak maksimal mendukung Joko. Baca Juga Komisi XI: Ekonomi Mandiri Hindari Penguatan Mata Uang Asing Tolak Dolar, Jokowi Pilih Yuan untuk Nilai Tukar Rupiah Jokowi Kaget Lihat 445 Kilogram Sabu Presiden: Amnesti Pajak Tahap Satu Tersukses di Dunia Jokowi Akui Daya Saing Indonesia Masih Kalah dengan Negara ASEAN Tim Kampanye Nasional Joko-Kalla Eva Kusuma Sundari tidak menampik bila elektabilitas Joko belum maksimal. Ini lantaran aktivis partai belum turun maksimal. “Kita belum full . Masih mengandalkan relawan,” aku Eva ditemui di sela-sela sidang paripurna DPR, di Gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu (18/6/2014). Eva memastikan untuk memaksimalkan kapasitas, PDI Perjuangan langsung menerjunkan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani keliling ke kantong-kantng suara. “Harapannya dapat menyumbang suara,” tegas Eva kepada inilah.com Anggota Komisi Hukum DPR RI ini memastikan pihaknya saat ini sengaja menyisir daerah-daerah baru kemudian di akhir masa kampanye akan fokus di daerah DKI Jakarta dan Jawa Barat. Pihaknya optimistis provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur dapat dikuasai. “Kita terapkan politik bubur ayam,” ucap Eva. Ketika ditanya soal dominasi pihak-pihak di luar PDI Perjuangan yang berada di lingkar dalam Joko, Eva berdalih hal tersebut merupakan pembagian kerja antartim. Menurut dia, tugas PDI Perjuangan menggerakkan struktur partai. “Nah urusan media dan wacana kita ‘outsourcing-kan’ ke mereka, karena punya banyak waktu. Mereka tidak bisa garap basis,” tutur Eva. Seperti diketahui, belakangan Joko tampak kerap didampingi figur-figur yang tidak berlatarbelakang partai pengusung, yakni PDI Perjuangan. Figur seperti Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, pengamat dan konsultan politik Eep Saifullah Fatah, bekas Koordinator ICW Teten Masduki, bekas Ketua YLBHI Todung Mulya Lubis, dan mantan Kepala BIN AM Hendropriyono, justru lebih dominan. Kehadiran sejumlah tokoh di luar kader PDI Perjuangan itu menimbulkan kasak-kusuk di internal partai berlambang moncong putih tersebut. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut cukup merisaukan internal PDI Perjuangan. “Terus terang ini yang kita khawatirkan. Ini bisa menjadi komplikasi ke depan,” ujar salah satu pengurus PDI Perjuangan yang enggan disebutkan namanya tersebut. Berbagai riset politik belakangan kompak menyebutkan Joko mengalami penurunan elektabilitas. Margin antara Joko dan Prabowo saat ini semakin mengecil di kisaran 6-7 persen. Akankah politik bubur panas ala Joko bakal menuai sukses? Ditambah situasi internal dengan kehadiran tokoh-tokoh non partai yang justru lebih intens mendampingi Joko ketimbang kader PDI Perjuangan.(gJ/inl/rim) Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Opini , prabowo , Menurun , Jokowi , Opini , prabowo , Menurun , Jokowi

Sumber: RimaNews