Trump Tuntut Peningkatan Kerja Sama AS-Kuba

New York – Presiden Terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menuntut peningkatan kesepakatan kerja sama dengan Kuba yang telah dirintis Presiden AS, Barack Obama. Jika tidak, dia mengancam akan menghentikan kesepakatan antara AS dan Kuba, jika dia resmi menjabat presiden pada Januari 2017. Trump menegaskan, keputusannya itu bergantung pada keinginan pemerintah Havana untuk meningkatkan kesepakatan menjadi lebih baik untuk rakyat Kuba, warga Kuba yang tinggal di AS, dan juga bagi AS. “Jika Kuba tidak membuat kesepakatan yang lebih baik bagi rakyat Kuba, warga Kuba/Amerika, dan Amerika Serikat secara keseluruhan, saya akan menghentikan kesepakatan,” tulis Trump di akun Twitter-nya, Senin (28/11). Pemulihan hubungan diplomatik kedua negara, hingga dibukanya kembali kedutaan besar masing-masing, diupayakan oleh Presiden Barack Obama, yang berkunjung ke ibu kota Kuba, Havana, pada Maret 2016. Pesan Trump yang mengancam akan menghentikan kesepakatan itu, datang seiring dengan dimulainya rangkaian upacara penghormatan terakhir kepada pemimpin revolusi Kuba, Fidel Castro, di Havana, Senin. Castro meninggal dunia, pada Jumat (25/11). Di masa awal kampanye Pilpres AS, Trump pernah mengaku tidak punya masalah dengan kebijakan atas Kuba. “Lima puluh tahun sudah cukup, kawan-kawan,” katanya dalam debat TV yang disiarkan CNN. Namun beberapa jam setelah Fidel Castro meninggal, Trump menyebutnya sebagai seorang diktator yang brutal walau pernyataan itu tidak menyinggung janji tentang Kuba pada masa kampanye. Hubungan AS dan Kuba terputus sejak tahun 1961, pada masa Perang Dingin antara negara-negara komunis dan kapitalis. Dalam kunjungan bersejarahnya ke Kuba pada Maret 2016, Presiden Obama mengatakan perubahan akan terjadi di Kuba dan Presiden Raul Castro -adik Fidel Castro- memahaminya. Jeanny Aipassa/JAI Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu