CIMB Niaga Targetkan Bisnis Wealth Management Tumbuh 10%

Jakarta – PT CIMB Niaga Tbk menargetkan dana kelolaan (asset under management/AUM) wealth management perseroan tumbuh sekitar 10% hingga akhir tahun ini, dibandingkan akhir tahun lalu Rp 13 triliun. Hingga September 2016, dana kelolaan wealth management perseroan mencapai Rp 14,7 triliun. Senior Vice President Wealth Management and Insurance Product Bank CIMB Niaga Vera Margaret mengatakan, saat ini penetrasi dari produk wealth management di Tanah Air memang masih kecil, sehingga potensi pertumbuhan bisnis tersebut ke depan masih sangat besar. Perseroan memiliki sekitar 100 ribu nasabah wealth management yang terdiri atas nasabah prioritas maupun nasabah ritel. “Hingga September, AUM kami mencapai Rp 14,7 triliun. Kami targetkan hingga akhir tahun ini, pertumbuhan AUM mencapai 10% dibandingkan akhir tahun lalu yang mencapai Rp 13 triliun,” kata Vera di Jakarta, Rabu (19/10). Menurut dia, produk wealth management perseroan cukup lengkap terdiri atas 72 produk reksa dana dari 11 manajer investasi, produk asuransi unit linked maupun tradisional dari dua perusahaan asuransi, surat utang baik surat berharga negara maupun obligasi korporasi, hingga structured product. “Saat ini kami punya tiga structured product yakni market linked deposit, swap depo, dan strike currency,” kata dia. Perseroan juga memiliki produk unggulan, yakni CIMB Regular Investment Saving Plan Plus (CRISP Plus) yang merupakan produk kerja sama eksklusif dengan PT CIMB Principal Asset Management. Melalui produk tersebut, nasabah dapat berinvestasi pada beragam produk reksa dana setiap bulan, dengan jangka waktu mulai enam bulan hingga 10 tahun. Produk tersebut juga dilengkapi dengan produk asuransi yang diberikan secara gratis kepada nasabah. “Produk ini masih baru, saat ini nasabahnya baru beberapa ribu dan kami perkiraan terus tumbuh,” ungkap dia. Sementara itu, Head of Retail Banking Product Bank CIMB Niaga Budiman Tanjung menambahkan, saat ini kontribusi bisnis wealth management terhadap pendapatan berbasis komisi (fee based income) mencapai 40% dari total fee based income perseroan. Hingga akhir tahun ini pihaknya pun menargetkan dapat memperoleh pendapatan komisi dari bisnis wealth management tersebut sekitar Rp 800 miliar. “Sampai akhir tahun fee based income kami dari wealth management bisa mencapai Rp 800 miliar, tumbuh sekitar 15% dibanding tahun lalu. Hingga saat ini, angkanya sudah mencapai Rp 600 miliar, pertumbuhannya sama sekitar 15% (yoy),” terang dia. Ke depan, Budiman mengaku menargetkan porsi pendapatan dari bisnis wealth management dapat meningkat dan berada di atas 40%. Tahun depan pihaknya pun berencana menyelenggarakan program melek investasi (Melisa) untuk mendorong lebih banyak masyarakat yang memahami investasi, dengan menabung lebih cepat dan memahami risiko berinvestasi. Agustiyanti/ARS Investor Daily

Sumber: BeritaSatu