Didesak Penghitungan Suara Ulang, Trump Kecam Hillary

New York – Kubu Presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengecam saingannya Hillary Clinton yang bergabung dengan upaya penghitungan suara ulang pemilihan presiden (Pilpres) yang diprakarsai kandidat presiden dari Partai Hijau, Jill Stein. Dalam pernyataannya di akun Twitter, Minggu (27/11), Trump menuding bahwa ada jutaan suara ilegal di beberapa negara bagian yang dimenangkan Hillary, namun tak diungkit olehnya. Dia juga mengklaim penghitungan suara ulang yang dilakukan Stein dan didukung Hillary, justru akan melengkapi kemenangannya atas suara popular (popular votes). “Itu akan menjadi jauh lebih mudah bagi saya untuk menang karena ini akan mengubah hasil keseluruhan, di mana saya akan memenangkan suara popular tidak hanya electoral votes (suara pemilu, red),” kata Trump dalam akun Twitter-nya. Tak hanya itu, Trump juga memajang cuplikan pidato Hillary yang mengakui kemenangan Trump dan mendorong pendukungnya untuk menerima hasil Pilpres AS pada 8 November 2016. “Donald Trump akan menjadi preside kita,” kata Hillary dalam cuplikan pidatonya yang ditautkan Trump. Seolah tidak puas, Trump pun menayangkan pidato Hillary dalam debat publik, saat Hillary mengecam Trump yang menolak menerima hasil Pilpres. Dia menuding, langkah Hillary bergabung dalam upaya penghitungan ulang suara menunjukkan dia tidak menerim hasil Pilpres. Banjir cuitan Trump di akun Twitter-nya yang mengecam Hillary, muncul setelah Marc Elias, pengacara Hillary, mengumumkan akan bergabung dalam upaya penghitungan ulang yang diprakarsai Stein. “Hillary mengambil langkah ini untuk memastikan hasil pemungutan suara berlangsung dengan cara yang adil untuk semua pihak,” kata Elias. Dia menjelaskan, sejauh ini tidak ada bukti yang menyimpulkan sistem pemilihan telah disabotase. “Tapi kami memiliki kewajiban untuk lebih dari 64 juta orang Amerika yang telah memberikan suara untuk Hillary,” ujar Elias. Stein telah mengumpulkan dana sekitar US$ 5,4 juta dalam upaya untuk membiayai penghitungan suara ulang di Michigan, Pennsylvania dan Wisconsin. Tiga negara bagian tersebut menjadi kunci kemenangan marah Trump dalam Pilpres AS pada 8 November 2016. Namun diduga terjadi kecurangan dalam bentuk sabotase atau peretasan sistem komputer, karena hasil penghitungan suara dilakukan secara online bukan manual. Kecurigaan muncul karena hasil penghitingan suara yang dilakukan secara online di tiga negara bagian tersebut, berbeda jauh dengan jajak pendapat (polling) yang dilakukan sejumlah lembaga survei dan media massa. Padahal di negara bagian yang melakukan penghitungan suara secara manual, hasilnya tidak jauh berbeda dengan polling. Stein menegaskan, upaya penghitungan suara ulang yang didorongnya bukan untuk menyerang kandidat presiden yang memenangkan Pilpres, namun untuk menguji keakuratan sistem penghitungan suara. “Penghitungan ulang ini dimaksudkan untuk menguji integritas sistem pemilihan AS, di tengah begitu banyak spekulasi bahwa Rusia menyabotase proses pemilihan,” ujar Stein. Jeanny Aipassa/WIR Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu